-->

Iklan

close
Banner iklan disini

Notification

×
close
Banner iklan disini
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Arsip Blog

Translate

Iklan

Konflik 22 Mei Merupakan Ulah Penghianat Bangsa

, Mei 25, 2019 WIB

Konflik 22 Mei merupakan Ulah Penghianat bangsa

JAKARTA-Konflik yang terjadi sekarang bukan lagi tentang Pemilu, Pilpres, apalagi Pileg. Bukan pula karena pertarungan antara kubu Jokowi dan kelompok Prabowo. Lebih dari semuanya, pertarungan ini adalah pertarungan antara para penjaga kedaulatan negara melawan para pengkhianat bangsa yang terus-menerus merongrongnya dari dalam.

Siapa saja para pengkhianat itu?

Di atas sudah dikatakan bahwa upaya perongrongan terus-menerus dilakukan dari dalam. Artinya, pengkhianat tersebut adalah bagian dari anak bangsa, saudara kita sendiri setanah air.

Sebagai sesama anak bangsa, dalam melancarkan aksi pengkhianatannya, mereka juga lantang berteriak NKRI harga mati. Tak segan dan sering pula mengumbar janji demi rakyat, demi bangsa, dan demi negara. Tapi di balik itu semua, pada kenyataannya, yang diperbuat justru sebaliknya. Mereka terus merongrong kedaulatan negara dengan cara-cara kotor, memanfaatkan rakyat demi kepentingan pribadi dan segelintir orang dalam kelompoknya saja.

Sebelum menjawab pertanyaan siapa para pengkhianat bangsa itu, terlebih dahulu saya akan memberikan contoh sikap yang ditunjukkan oleh beberapa tokoh bangsa yang dalam pengamatan saya tergolong sebagai sikap seorang negarawan. Dan mereka ini telah menunjukkan dirinya sebagai penjaga setia wibawa serta marwah kedaulatan bangsa dan negara.

Kita bisa perhatikan tokoh sekaliber mantan presiden ketiga BJ. Habibie, mantan Wapres ke-enam Tri Soetrisno, Quraish Shihab, Buya Syafi'i Ma'arif, Mahfud MD, dan beberapa tokoh senior lainnya dalam menyikapi fenomena konflik yang terjadi akhir-akhir ini.

Mari kita coba flashback sedikit melihat pandangan umum masyarakat terkait tokoh-tokoh tersebut. Bisa dikatakan seorang Buya Syafi'i Ma'arif dan Mahfud MD, atau bahkan yang sekelas Quraish Shihab sekalipun masih kontroversial. Ada beberapa kelompok yang hingga sekarang masih meragukan independensitas mereka. Tapi khusus untuk BJ Habibie dan Tri Soetrisno, siapa yang berani mempertanyakan kenegarawanan keduanya? Hampir semua rakyat Indonesia sepakat bahwa mereka berbuat demi bangsa dan negara -- lebih dari sekedar kepentingan politik sesaat atau kepentingan lainnya yang bersifat pribadi dan kelompok.

Di tengah terjadinya kerusuhan (dan tak lama setelahnya) yang dipicu adanya aksi demonstrasi dari tanggal 21 hingga 23 Mei yang menolak putusan pemenang Pilpres, tokoh-tokoh bangsa tersebut secara otomatis tergerak melangsungkan pertemuan. Diantaranya yang terpublikasi berlangsung di rumah Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK dan di rumah Habibie setelahnya.

Kita tak tahu pasti apa yang menjadi keresahan mereka, dan apa pula yang didiskusikan para tokoh tersebut sebelumnya, atau bagaimana tepatnya pembicaraan mereka dalam pertemuan-pertemuan yang digelar, kita tak bisa memastikan. Yang kita tahu adalah yang disampaikan ke publik setelahnya yaitu siapa saja yang berkumpul dan apa poin penting yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.

Dalam batas pandang dan pengetahuan saya, tokoh-tokoh tersebut sudah selayaknya disebut negarawan. Mengutip pernyataan seorang negarawan lain yang sudah meninggal dunia beberapa tahun silam, Prof. DR. Damardjati Supadjar pernah mengatakan bahwa mereka yang sekarang sering kita sebut sebagai negarawan itu adalah juga para 'Begawan Bangsa' yang akan terus ada dari masa ke masa. Tugasnya menjaga dan memastikan jalannya roda pemerintahan agar terus berada dalam koridor yang semestinya. Dalam hal ini, saya menyimpulkan tugas para Begawan Bangsa adalah menjaga wibawa serta marwah kedaulatan bangsa dan negara.

Dalam konteks hari ini, di masa pemerintahan Jokowi-JK, yang tampak dipermukaan diakui sebagai Begawan Bangsa adalah BJ. Habibie dan Tri Soetrisno. Keduanya 'hampir' tak ada lagi yang meragukan integritas serta netralitasnya. Dan sikap mereka sekarang terang benderang sepenuhnya mendukung langkah-langkah pemerintah dalam hal ini TNI-POLRI dan Kemenkopolhukam dalam menangani konflik y
ang terjadi.

Berdasarkan penilaian di atas, kita bisa melihat siapa saja yang sekarang terus-menerus menyerang TNI-POLRI. Siapa saja yang mengarahkan tuduhan-tuduhan keji tak beralasan pada Jenderal Tito Karnavian dan Jenderal Hadi Tjahjanto. Siapa saja pula yang terus-menerus memprovokasi rakyat agar membenci dan menyalahkan presiden, pemerintah, dan pihak-pihak yang mendapat dukungan penuh dari para Begawan Bangsa.

Bukankah sudah jelas dan nyata di depan mata bahwa para pengkhianat bangsa itu ada dalam barisan Prabowo-Sandi. Merekalah yang terus-menerus berupaya merongrong wibawa negara, terus melakukan upaya-upaya pelemahan wibawa serta kedaulatan bangsa dan negara kita. Bahkan sudah sangat kentara, karena terlalu sering menggunakan kebohongan atau hoax dalam tuduhannya.

Tak ada waktu meladeni permainan busuk mereka. Saatnya para penjaga kedaulatan negara menghabisi para pengkhianat bangsa. Musnahkan mereka melalui jalur-jalur yang sudah ada. Bersama dukungan para Begawan bangsa, kami rakyat biasa selalu siap siaga.


Komentar

Tampilkan

  • Konflik 22 Mei Merupakan Ulah Penghianat Bangsa
  • 0