PURBALINGGA-Mewabahnya pabrik rambut di kota Purbalingga nyatanya tidak hanya memberikan dampak positiv bagi warganya, namun juga menimbulkan dampak negativ yang justru bisa mempengaruhi masa depan anak-anak di kota Purbalingga.
Bagaimana tidak, setiap harinya banyak anak-anak di Purbalingga yang ditinggal oleh ibunya dari pagi hingga petang. Bahkan adapula yang ditinggal pergi bekerja hingga larut malam, karena mengejar target lemburan yang diberikan oleh perusahaan.
Dengan dalih ingin membantu ekonomi keluarga, ibu-ibu di purbalingga rela meninggalkan buah hatinya, demi mengabdikan dirinya kepada perusaaan milik asing yang bergerak dalam indutsri rambut. Lalu, apakah ini yang disebut sebagai langkah untuk membangun kota Purbalingga?
Kalo kita berbicara mengenai urusan mencari nafkah, tentunya ini 100% merupakan tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Lalu, kenapa sejak dulu Pemkab Purbalingga getol sekali melobi perusahan yang justru hanya merektut tenaga kerja wanita untuk datang ke Purbalingga?
Seharusnya, Pemkab Purbalingga itu bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai dampak yang akan ditimbulkan, sebelum menarik banyak investor yang bergerak di industri rambut untuk datang ke Purbalingga.
Bayangkan, anak-anak Purbalingga yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya dimasa kecil, jutsru kini harus ditinggal oleh ibunya demi menjadi buruh pabrik. Padahal, seharusnya anak-anak di Purbalingga itu bisa menghabiskan hari-harinya bersama dengan ibu tercinta, namun apalah daya, kini kebahagiaan mereka sedikit terenggut oleh keberadaan pabrik rambut yang sudah menjamur di kota Purbalingga.
Sebagai seorang ibu, tugas utamanya ialah mengurus rumah dan mendidik anak-anaknya supaya bisa tumbuh menjadi anak yang pintar, bukan justru harus keluar rumah demi untuk mencari nafkah . Walau dengan dalih ingin membantu ekonomi keluarga, namun kebahagiaan anak-anak itu merupakan hal yang paling utama dalam berkeluarga.
Entah apa yang mungkin dirasakan oleh anak-anak di Purbalingga. Disaat mereka sedang membutuhkan sosok seorang ibu, justru sang ibu sedang mengabdikan dirinya kepada perusahaan milik orang. Padahal, yang akan mendoakan kita kelak itu anak-anak kita, bukanlah orang-orang yang sudah memberikan kita upah. Namun, kenapa kita rela meninggalkan mereka demi mengabdi kepada perusahaan orang?
Sebagai orang tua, janganlah kita menjadi orang tua yang dzalim, apalagi sampai kita menitipkan anak-anak kita di rumah neneknya demi menjadi seorang buruh pabrik. Ibu kita sudah merawat kita sejak kecil, mereka itu sudah lelah, dan sekarang saatnya bagi mereka untuk bersantai sembari memperbanyak amal ibadahnya, bukan justru harus repot mengurus cucunya dari pagi hingga sore. Anak itu merupakan tanggung jawab orang tua yang merupakan titipan Allah. Lalu, apakah Allah itu sampai salah menitipkan seorang anak, sehingga ada saja orang tua yang sampai tega menitipkan anak-anaknya demi sebuah pekerjaan?
Tentunya yang kita harapkan ialah, jangan sampai dihari tua, kita juga merasakan hal yang sama dengan apa yang sudah anak-anak kita rasakan. Ketika kita sedang sakit, dan membutuhkan kasih sayang, justru anak-anak kita terus sibuk untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Jangan sampai mereka itu lupa terhadap kita sebagai orang tua karena kesibukan mencari uang. Jadi, tanamkanlah rasa kasih sayang yang tinggi kepada anak-anak kita, supaya anak-anak kita juga bisa tau, bahwa kasih sayang didalam keluarga itu jauh lebih penting dari segalanya.
Yang tertulis disini bukanlah bentuk dari kritik, melainkan sebuah saran untuk Pemkab Purbalingga, agar mau menarik investor luar yang mampu menyerap tenaga kerja laki-laki di Purbalingga. Biarkanlah ibu-ibu di Purbalingga itu di rumah mengasuh anak-anaknya. Dan biarkanlah kaum lelaki saja yang mencari nafkah di kotanya sendiri, tanpa harus pergi ke luar kota.
Jangan jadikan gaya hidup sebagai alasan untuk mendzalimi anak-anak kita. Didiklah mereka dengan penuh kasih sayang dari sosok seorang ibu. Karena anak yang sukses itu merupakan hasil didikan orang tua, bukan orang lain.
Dan saran untuk pemimpin Purbalingga selanjutnya; Membangun Purbalingga itu tidak dengan terus menerus menciptakan lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu kita, namun membangun Purbalingga itu dengan membiarkan anak-anak di Purbalingga itu mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Karena anak yang sukses itu merupakan hasil didikan seorang ibu. Dan sosok seorang ibu, merupakan pengaruh terbesar bagi perkembangan seorang anak. Jadi, lakukan perubahan di kota tercinta kita. Jadikan kota Purbalingga semakin maju, tanpa ada tangisan dari anak-anak kita.
Anak-anak Di Purbalingga itu merupakan generasi penerus yang harus kita didik dengan penuh kasih sayang agar nantinya mampu membangun kota Purbalingga menjadi lebih maju. Janganlah sekali-kali kita merasa bangga ketika produk kita dikenal dunia, sementara banyak anak-anak di Purbalingga yang harus menjadi korban, karena kurangnya rasa kasih sayang dan perhatian dari sosok seorang ibu. Jadi, ayo lakukanlah perubahan, karena kalo tidak dari sekarang, kapan lagi???
#Salam Bahagia Untuk Anak-Anak Di Purbalingga# Save Anak Perwira_

