BRALINGNEWS- Ratusan orang berkumpul di kota Omdurman yang terletak di seberang Sungai Nil dari Khartoum, Sudan, pada Senin (1/7). Mereka melakukan protes kepada militer sehari setelah bentrokan antara dinas keamanan dan pengunjuk rasa yang menewaskan tujuh orang.
Dilansir dari Reuters, Selasa (2/7/2019), salah satu dari mereka mengatakan ratusan orang tersebut keluar setelah penduduk menemukan mayat tiga pemuda berpakaian sipil penuh dengan peluru di dekat sungai pada pagi harinya. Setidaknya ada 600 orang memblokir jalan utama menuju jembatan Nil Putih, yang menghubungkan Omdurman ke ibu kota Sudan, dan mendirikan barikade ketika polisi antihuru-hara mengawasi mereka.
Lusinan orang menangis dan meneriakkan 'turun dengan kekuasaan militer' serta 'darah untuk darah, kami tidak akan menerima uang darah' di dekat mayat yang tertutup bendera. Spanduk protes berdarah dan megafon tergeletak di dekatnya. Tidak mungkin memverifikasi siapa yang telah membunuh ketiga pria itu, tetapi para saksi mata mengatakan sebuah truk telah membuang mayat itu di sana.
Sejumlah dokter yang berhubungan dengan pihak oposisi mengatakan lebih dari 100 orang terbunuh dalam serangan pada bulan Juni dan jasad 40 orang telah ditarik dari sungai Nil.
Koalisi oposisi yang tergabung dalam Pasukan untuk Kebebasan dan Perubahan (FFC) telah memanggil jutaan orang untuk berdemonstrasi pada hari Minggu. Hari itu sekaligus sebagai peringatan 30 tahun kudeta yang membawa Presiden Bashir berkuasa, serta batas waktu yang diberikan Uni Afrika bagi penguasa militer Sudan untuk menyerakan kekuasaan kepada warga sipil atau akan menghadapi sanksi lebih jauh.
Sudan memiliki posisi yang strategis antara Timur Tengah dan Afrika, serta stabilitasnya dipandang penting untuk wilayah yang tengah bergejolak. Berbagai kekuatan, termasuk negara-negara Teluk yang kaya, berlomba-lomba mencari pengaruh di negara berpenduduk 40 juta ini.

