-->

Iklan

close
Banner iklan disini

Notification

×
close
Banner iklan disini
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Translate

Iklan

Mengenal Sejarah Desa Pekuncen Di Kebumen

, Januari 22, 2022 WIB

 

Mengenal Sejarah Desa Pekuncen Di Kebumen
Desa Pekuncen


PEKUNCEN, Konon adalah sebuah wilayah yang sangat indah, sebuah bukit kecil yang bersebelahan dengan area persawahan yang amat subur (Dukuh Aglik) lengkap dengan mata air yang mengalir sepanjang tahun (Pacor) serta dipajangi dengan hutan-hutan yang lebat dengan pohon yang kekar yang tumbuh di halaman (Watu Barut dan Alas Kasan), sehingga menciptakan harmonisasi alam yang anggun dan menarik setiap orang untuk datang dan tinggal untuk menyatu dengan alam sekitarnya. Demikianlah sebuah tempat (Pekuwon) di wilayah kabupaten Kebumen yang merupakan salah satu wilayah kesultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.


Berawal dari seorang Pertapa yang ditinggal dan menetap di hutan jati rumput (lereng sebelah selatan  hutan watu barut) yang bernama Ki Agglik hingga beristri dan mempunyai anak dan semua keturunannya menyebar ke timur hingga batas kali Luereng (Kali Kemit) dan keselelatan hingga  wilayah Sapanyana dan Rawabeyem, yang kemudian terbentuklah sebuah wilayah setingkat dusun yang berjumlah 9 (Sembilan) yaitu Ngaglik, Kali Abang,Jurangjero, Meton Sitiris, Pesantren, Yentek, Pekuncen, Sapanyana, dan Rawabeyen.


Dimana setiap wilayah itu muncul pemimpin/lurah (Tokoh) yang disegani yang tidak lain adalah keturunan dari Ki Aglik. Seiring dengan berjalannya waktu, maka Dukuh Pekuncen inilah yang perkembangannya sangat pesat terbukti banyak para pembesar dari kerajaan Jogjakarta termasuk Pangeran Ontowiryo yang dikenal dengan sebutan Pangeran Diponegoro, bahkan para pembesar kerjan Jogjakarta yang wafat dimakamkan di Pemakaman Pekuncen salah satunya adalah dari keluarga  Raden Adipati Mangkuprojo. Demikian pula Bupati – Bupati dari Kadipaten Kebumen dan Banyumas yang dimakamkan di Pekuncen. Dari Banyumas antara lain: Raden Banyak Wide,Raden Banyak Ngampar,Banyak Tontro dan beberapa keluarganya dan abdinya. Sedangkan dari Kebumen adalah Raden Kolopaking I – IV, juga Bupati pertama Kebumen yang memasuki masa Republik adalah Sukadis.


Disisi lain disini juga dibangun sebuah Masjid sebagai sarana ibadah dan transit para peziarah yang sampai hari ini masih menjadi salah satu situs sejarah religi di Kabupaten Kebumen yaitu masjid Saka Tunggal. Dalam suatu ketika munculah tokoh negarawan yang konon waktu iyu mampu manyatukan 9 wilayah dusun (Pekuwon) dibawah satu tatanan pemerinthan setingkat Pademangan (Desa) yaitu “ PEKUNCEN”,beliau adalah “Mbah Langgeng Adipuro” yang namanya dikenang sampai saat ini bahkan dikeramatkan dan dipundi sampai keluar desa, beliaulah selaku ulama besar yang perah menjadi salah satu imam masjid saka tunggal,sebagai tokoh negarawan yang besar yang sering terdengar beliau memiliki hewan peliharaan yaitu “ MACAN PUTIH”. Hampir tidak ada catatan yang bisa menggambarkn secara runtut urutan waktu sejarah Pekuncen,selain kenyataan sejak masa republik ini ada beberapa Lurah/ Kades di Pekuncen yang pernah menduduki  jabatan tertnggi di desa yaitu: 


1. Abdul Rohman (alm) + 1940 – 1958


2. Mulya Pawira / Ngapari (alm) 1958 - 1987 


3. Suswanto Adi Prabowo 1987 – 1995


4. Suharno (alm) 1995 – 2001


5. Nanang Muntadim,S.Sos 2001 – 2006


6. Hasto Nugroho 2006 – 2013


7. Nanang Muntadim,S.Sos 2013 – 2019


Sepanjang masa Republik inilah banyak terjadi sebuah perubahan di Pekuncen. Dalam pemeritahan desa susunan perangkat desa dari : Lurah – Carik – Polisi Desa (Congkog) - Kebayan (Kadus),disamakan menjdi Kades - Sakdes – Jaur – Kadus, kemudian pada tahun 1980an bisa terbentuk pula RK(RW) dan RT. Dalam kondisi fisik Pekuncen memiliki SD inpres pada tahun 1975, sedangkan balai desa pada tahun 1987 / 1988 dengan membuat secar bergotong royong di masa pemerintahan Bapak Suswanto Adi prabowo. Perubahan yang cukup besar terjadi pada bidang social ekonomi dari masyarakat petani pnggarap sawah dan ladang dengan dibukanya pertambangan pasir di sungai luereng pada tahun 1985 secara besar-besaran sehingga sebagian penduduk  berubah mata pencahariannya dari petani jadi penambang pasir tradisional. Begitupun pada sector pertanian hampir 14 ha saah di Pekuncen telah menjadi sawah irigasi teknis sehingga petani bisa memanen padi 2 kali dan 1 kali palawija dalam setahun.


Pada tahun 1995 – 1996 sangat merubah citra Pekuncen , dari sinilah Pekuncen lebih dikenal di masyarakat luar bahkan dari luar kabupaten Kebumen selain memiliki cagar budaya Masjid Saka Tunggal, Pekuncen lebih dikenal dengan Perumnas Pekuncen  Permai, Sebuah komplek perumahan yang dibangun pertama kali di kulon kali Lukulo yangb terletak persis di lereng hutan watu barut. Pekuncen lebih dikenal dengan Saka Tunggal dan Perumnas. Pada tahun 2001 awal maka terbentuklah sebuah lembaga yang mengganti lembaga desa yaitu Lembaga Musyawarah Desa (LKM) berubah menjadi Badan Perwakilan Desa (BPD) yang kemudian sekarang berubah menjadi Badan Prmusyawaratan Desa, Sebagai mitra Pemerintah desa yang beranggotakan 9 orang yang terbagi dalam wilayah dusun di Pekuncen.


Sebagai ketua BPD adalah Ir. Muhartono (2001 – 2006), Suprapto. S.Pd. (2006 - 2011), Imin Supriyanto (2011 - 2017). Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Pekuncen, maka terjadilah pemekaran wilayah RW dimana pada saat itu hanya ada RW 01 dan RW 02, maaka pada tahun 2003 RW 02 mengalami pemekaran sehingga saat itu menjadi 3 RW (RW 01 RW 02 dan RW 03), kemudian karena letak geografis Pekuncen maka pada tahun 2005 RW 01 mengalami pemekaran sehingga sekarangan jumlah RW di desa Pekuncen ada 4 RW dan 18 RT yaitu: 1. RW 01: Dukuh Pekuncen (RT 01- 05) 2. RW 02: Pesantren,Meton Sitiris,Yentek (RT 01 – 04) 3. RW 03: Kaliabang,Aglik,Jurangjero (RT 01 – 05) 4. RW 04: Sapanyana, Rowobayen (RT 01 – 04).

Komentar

Tampilkan

  • Mengenal Sejarah Desa Pekuncen Di Kebumen
  • 0